Sumenep, UA Media- KKN Mandiri Universitas Annuqayah Posko 59 menggelar kegiatan Talk Show bertema “Serambi Literasi: Membaca untuk Tumbuh: Menguatkan Literasi, Menginspirasi Gen-Z Masa Kini” bersama puluhan santriwati Pondok Pesantren Annuqayah Latee I, di Aula Madrasah Diniyah, Jumat, 18 September 2026.
Ketua KKN Mandiri Pesantren Posko 59, Dina Kamilia mengatakan kegiatan ini mengajak para santri untuk berbagi cerita dan memiliki pandangan tentang pentingnya membaca dan menulis, khususnya di era banjir informasi dan AI.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi KKN Mandiri Pesantren yang diarahkan untuk mendorong santri agar tetap memiliki budaya membaca, menulis, serta berpikir kritis di tengah kemudahan akses teknologi digital,” katanya.
Ia menambahkan santriwati diajak memahami bahwa membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi, tetapi merupakan proses membangun wawasan dan cara berpikir. Begitu pula dengan menulis, yang menjadi sarana untuk mengolah gagasan sekaligus menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat.
“Di era AI, kemampuan membaca dan menulis justru semakin penting. AI dapat membantu kita, tetapi manusia tetap harus memiliki kemampuan untuk membaca, memahami, memverifikasi, dan mengolah informasi,” ujarnya.
Abd. Warits M.Pd. sebagai pemateri menyampaikan pentingnya literasi di zaman sekarang, termasuk membaca dan menulis sebagai literasi dasar yang perlu dibiasakan. Ia mengajak para peserta untuk melihat kembali pentingnya membaca dalam proses belajar.
“Hidup di era banjir informasi dan serba instan ini, kemampuan membaca, memahami dan memilah informasi tetap menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan,” katanya.
Sekretaris LTNNU Sumenep ini juga mengajak santri melihat perkembangan AI secara lebih bijak. Kehadiran AI dinilai dapat memberikan banyak kemudahan dalam mencari informasi, mengembangkan ide, hingga membantu proses belajar. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan literasi yang kuat agar teknologi tidak membuat seseorang kehilangan kebiasaan membaca dan kemampuan berpikir mandiri.
“Jangan kita biarkan AI mengganti kebiasaan membaca. Tetapi, gunakan AI untuk memperluas bacaan, bukan mempersempit pikiran,” tambahnya.
Menurutnya, tantangan literasi saat ini bukan hanya rendahnya minat membaca, tetapi juga munculnya kebiasaan menerima informasi secara instan. Kondisi tersebut menuntut generasi muda, khususnya santri, untuk memiliki kemampuan memilah informasi dan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.
“Membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi, tetapi merupakan proses membangun wawasan dan cara berpikir. Begitu pula dengan menulis, yang menjadi sarana untuk mengolah gagasan sekaligus menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat,”pungkasnya.