'Satu Menit Indonesia': Cara Unik KKN Internasional Arab Saudi Jaga Api Kebangsaan Siswa TKI

Setiap pagi, satu siswa maju ke depan kelas dan menyebutkan satu fakta tentang Indonesia. Boleh tentang makanan, lagu, daerah asal orang tua, atau nama pahlawan. Tidak ada penilaian, tidak ada tekanan. Program bernama 'Satu Menit Indonesia' ini kini menjadi pembuka hari yang dinantikan siswa-siswi Sekolah Indonesia Mekkah.

MEKKAH AL-MUKARRAMAH, Agustus-September 2026

Jauh dari kampung halaman, di antara menara-menara Mekkah yang tinggi dan gemuruh azan yang berkumandang lima kali sehari, anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI) tumbuh di antara dua dunia. Mereka berbahasa Indonesia di sekolah, tetapi berbahasa Arab di pasar, di lingkungan tempat tinggal, dan sering kali juga di antara teman bermain. Indonesia bagi mereka lebih sering hadir sebagai cerita orang tua, bukan pengalaman nyata yang bisa dilihat atau disentuh setiap hari.

Inilah yang ingin dijawab oleh program-program Tema 2 KKN Internasional Universitas Annuqayah di Sekolah Indonesia Mekkah: bukan dengan ceramah tentang nasionalisme, bukan dengan upacara besar yang hanya terjadi sekali - melainkan dengan kebiasaan-kebiasaan kecil harian yang mengakumulasi rasa kebangsaan secara organik.

"Kami tidak bisa mengubah lingkungan mereka yang lebih banyak Arab daripada Indonesia. Tapi kami bisa memastikan bahwa setiap hari, minimal satu menit, pikiran mereka terhubung ke Indonesia. Dari situlah nama programnya: Satu Menit Indonesia. Satu menit itu yang kami jaga setiap hari." kata Andrianto, Ketua Posko KKN Internasional Universitas Annuqayah di SIM.

Program K-1 ini bekerja dengan mekanisme yang sangat sederhana. Sebelum pelajaran pertama dimulai, satu siswa - digilir setiap hari - maju ke depan kelas dan menyebutkan satu fakta tentang Indonesia. Tidak ada batas tema: boleh tentang rendang, tentang Soekarno, tentang Gunung Semeru, tentang batik dari daerah asal nenek moyang mereka. Hari-hari pertama, mahasiswalah yang memberikan contoh. Hari-hari berikutnya, siswa yang mulai berinisiatif sendiri.

Sejauh ini, lebih dari dua puluh fakta unik telah terkumpul dari setiap kelas yang menjalankan program ini. Tema yang paling sering muncul adalah makanan khas daerah, diikuti nama-nama pahlawan, dan kemudian - yang mengejutkan para mahasiswa - nama-nama kampung halaman orang tua yang disebutkan dengan penuh kerinduan oleh siswa-siswa yang belum pernah menginjak tanah Indonesia sekalipun.

"Ada siswa yang menyebutkan nama desa di Madura yang bahkan ia sendiri belum pernah mengunjunginya. Ia hafal nama desanya dari cerita orang tuanya. Itu bukan sekadar pengetahuan - itu ikatan. Dan KKN ini bertugas untuk menjaga ikatan itu agar tidak putus hanya karena jarak dan waktu." kata Dr. Rosidi Bahri, S.Pd., M.Ag., Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Internasional Universitas Annuqayah.

Di dinding setiap kelas, peta Indonesia berukuran besar kini terpajang. Pada sesi pertama pemasangan, siswa diminta menancapkan bendera kecil di daerah asal orang tua mereka. Peta itu kini bukan lagi sekadar hiasan - ia menjadi titik percakapan. Ketika mahasiswa membahas materi IPS atau geografi, peta itu yang pertama kali ditunjuk. Ketika ada siswa yang menyebutkan fakta daerahnya dalam Satu Menit Indonesia, teman-temannya berlomba mencari letak daerahnya di peta.

Tiga menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi, seluruh kelas berdiri dan menyanyikan satu lagu daerah bersama. Program K-3 - Lagu Daerah Sebelum Pulang - ini berlangsung setiap hari dengan lagu yang digilir: hari ini Tanduk Majeng dari Madura, besok Bubuy Bulan dari Sunda, lusa Bengawan Solo dari Jawa. Mahasiswa memimpin, siswa mengikuti. Dalam dua minggu berjalan, beberapa kelas sudah hafal lebih dari delapan lagu.

"Waktu tiga menit itu kecil. Tapi setiap kali kami selesai menyanyikan satu lagu, ada sesuatu yang berubah di wajah anak-anak. Ada yang senyum, ada yang minta lagu dari daerah asal ibunya. Ada satu anak yang menangis pelan saat menyanyikan lagu daerah yang ternyata sering dinyanyikan neneknya di kampung. Momen-momen seperti itu yang tidak ada di buku materi KKN manapun." ungkap Andrianto, Ketua Posko KKN Internasional Universitas Annuqayah di SIM

Di lorong-lorong sekolah, foto dan keterangan singkat tokoh-tokoh Indonesia berganti setiap Senin. Dari R.A. Kartini, Ki Hajar Dewantara, hingga ilmuwan dan atlet muda Indonesia masa kini - program K-4 Galeri Tokoh Indonesia ini tidak memerlukan sesi khusus. Siswa membacanya sambil lewat, saat menunggu guru, atau saat istirahat. Setiap minggu, satu nama tokoh diintegrasikan ke dalam sesi Satu Menit Indonesia untuk memperdalamnya.

Sementara itu, program senam dengan lagu daerah yang sudah ada di SIM sebelum KKN dimulai kini mendapat tambahan lima menit sesi cerita setelah senam berlangsung. Mahasiswa menceritakan asal daerah lagu, makna liriknya, dan tradisi terkaitnya. Guru olahraga yang selama ini hanya memutar lagunya kini juga mulai ikut bercerita - tanda bahwa program ini mulai mengakar.

"Yang saya kagumi dari desain program ini adalah ia tidak menciptakan sesuatu yang baru dari nol. Ia masuk ke dalam yang sudah ada dan membuatnya lebih dalam. Senam lagu daerah sudah berjalan, tapi dulu tidak ada yang tahu makna lagunya. Peta Indonesia sudah ada di dinding, tapi tidak ada yang menjadikannya media belajar. Ini yang saya maksud dengan pendekatan yang cerdas - minimal beban, maksimal dampak." kata Dr. Rosidi Bahri, S.Pd., M.Ag., Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Internasional Universitas Annuqayah.

Evaluasi berkala bersama DPL dilaksanakan setiap akhir pekan. Dalam setiap sesi evaluasi, mahasiswa melaporkan perkembangan program per kelas, kendala yang ditemui, dan strategi penyesuaian untuk minggu berikutnya. DPL memberikan umpan balik dan memastikan setiap program berjalan sesuai indikator yang telah ditetapkan.

Puncak dari seluruh program kebangsaan ini dijadwalkan pada 5 September 2026 dalam acara Hari Indonesia - sebuah pentas seni yang menampilkan tari daerah, lagu nusantara, dan bazar makanan khas Indonesia. Di situlah seluruh yang telah dipelajari siswa dalam empat minggu akan ditunjukkan kepada dunia - atau setidaknya, kepada seluruh warga Sekolah Indonesia Mekkah.

Abdul Warits (Humas)