Program Baca 15 Menit dan Mading Kelas menjadi dua program harian yang kini berjalan di seluruh kelas PAUD hingga SMP di Sekolah Indonesia Mekkah. Siswa-siswa TKI yang selama ini lebih akrab dengan bahasa Arab kini mulai meluangkan waktu membaca Bahasa Indonesia setiap pagi.
MEKKAH AL-MUKARRAMAH, Agustus 2026
Sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, suasana kelas-kelas di Sekolah Indonesia Mekkah (SIM) sudah berubah. Para siswa, dari kelas satu SD hingga kelas tiga SMP - membuka buku masing-masing dan membaca dalam diam selama lima belas menit. Di antara mereka, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Annuqayah juga duduk membaca, bukan mengawasi. Itulah program L-1: Standarisasi Baca 15 Menit.
Program ini merupakan bagian dari sebelas program kerja KKN Internasional Universitas Annuqayah yang resmi berjalan di SIM sejak 17 Agustus 2026. Berbeda dari kegiatan KKN pada umumnya yang menambah jadwal baru, program-program ini dirancang menyisip ke dalam kegiatan belajar mengajar yang sudah ada - sehingga tidak membentur keterbatasan waktu yang menjadi tantangan utama di sekolah diaspora ini.
"Kami tidak membuat kegiatan yang menambah beban jadwal sekolah. Kami masuk ke dalam rutinitas yang sudah ada dan mencoba membuatnya lebih hidup dan lebih bermakna. Program baca ini sebenarnya sudah pernah berjalan di satu kelas, tapi belum merata. Sekarang kami coba standarkan ke semua kelas.", kata Andrianto, Ketua Posko KKN Internasional Universitas Annuqayah di SIM.
Bahan bacaan yang digunakan bebas - boleh buku cerita, buku pelajaran, majalah anak, atau apapun yang siswa miliki. Tidak ada target hafalan, tidak ada ujian. Setiap Jumat, satu siswa sukarela berdiri dan menceritakan satu kalimat dari buku yang ia baca minggu itu. Sederhana, tetapi cukup untuk membangun kebiasaan reflektif sejak dini.
Di samping program membaca harian, mahasiswa KKN juga memperkenalkan Mading Kelas: satu lembar karton berukuran A2 yang ditempel di dinding setiap kelas, diganti setiap Senin pagi. Pada minggu pertama, mahasiswalah yang membuat isi mading sebagai contoh - berisi puisi pendek, satu fakta tentang Indonesia, dan kolom kosong bertuliskan 'Kata hari ini'. Mulai minggu kedua, siswa yang mengambil alih.
"Saat kami tempel mading pertama, banyak siswa yang langsung mendekat dan membaca. Itu sendiri sudah sesuatu - buku mungkin berat buat mereka, tapi tulisan di dinding rasanya lebih dekat. Sekarang di minggu ketiga, ada siswa yang sudah berebut ingin tulisannya ditempel. Itu yang kami kejar." tambah Andrianto
Kedua program ini dievaluasi secara berkala bersama Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Rosidi Bahri, S.Pd., M.Ag. Setiap akhir pekan, seluruh tim mahasiswa berkumpul untuk melaporkan perkembangan, kendala, dan rencana penyesuaian minggu berikutnya. Evaluasi ini menjadi bagian penting dari sistem pemantauan yang dibangun sejak awal agar setiap program tidak sekadar berjalan, tetapi berdampak terukur.
"Literasi bukan soal seberapa banyak buku yang dibaca, tapi soal apakah membaca sudah menjadi bagian dari cara hidup anak-anak ini. Di tengah lingkungan yang didominasi bahasa Arab, mempertahankan Bahasa Indonesia sebagai bahasa baca adalah perjuangan tersendiri. Program-program ini kecil secara waktu - 15 menit, 20 menit - tapi kalau konsisten, dampaknya akan jauh lebih besar dari satu seminar besar yang hanya terjadi sekali." kata Dr. Rosidi Bahri, S.Pd., M.Ag, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Internasional Universitas Annuqayah.
Evaluasi minggu pertama mencatat bahwa dari seluruh kelas yang dijangkau tim mahasiswa - terbagi di jenjang PAUD, SD, dan SMP - tingkat konsistensi program baca sudah mencapai di atas delapan puluh persen. Siswa shift pagi yang berstatus resmi menjadi peserta utama, sementara siswa shift siang yang berstatus tidak terdaftar juga turut mendapat akses program serupa dalam suasana yang lebih informal.
Di pojok perpustakaan SIM, satu mahasiswa yang bertugas penuh sebagai koordinator perpustakaan mulai menata 'Buku Minggu Ini' - satu buku dipajang terbuka di meja paling depan, disertai selembar kertas bertuliskan 'Kamu sudah baca? Tulis namamu di sini'. Sistem sederhana ini menjadi bagian dari program L-3: Pojok Baca Aktif.
"Kami sadar tidak bisa menjangkau semua kelas - sebelas mahasiswa tidak cukup untuk sekolah sebesar ini. Makanya kami libatkan OSIS untuk SMP dan SMA. Mereka yang kami latih menjadi agen literasi. Buletin Dinding OSIS, Perpustakaan Berjalan yang membawa buku ke kelas saat istirahat - itu semua dijalankan oleh siswa sendiri, bukan oleh kami." ungkap Andrianto.
KKN Internasional Universitas Annuqayah di SIM dijadwalkan berlangsung hingga 13 September 2026, dengan rangkaian penutupan yang akan menampilkan karya-karya literasi siswa dalam sebuah Gelar Karya dan puncak acara Hari Indonesia. Seluruh program yang berjalan selama ini akan diwariskan kepada sekolah - termasuk pojok baca, mading yang sudah menjadi milik siswa, dan panduan tertulis bagi OSIS untuk melanjutkan program secara mandiri.
Abdul Warits (Humas)